Jumat, 09 Februari 2024

3.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.1


PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN


Diterbitkan : 09 Pebruari 2024

Sumber                : Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-Nilai Kebijakan Sebagai Pemimpin 
Penulis                 : Nia Hotimah, S.Si.,M.Pd
CGP                     : Angkatan 9
Fasilitator             : Endang Sulistiyowati
Pengajar Praktek : Faiqotul Himmah, S.Pd.,M.Pd
.

SALAM DAN BAHAGIA.....

Dalam tugas 3.1.a.8 Koneksi Antar Materi - Modul 3.1 kali ini, Saya akan memberikan ulasan terkait kesimpulan dari keseluruhan materi yang didapat selama mengikuti pembelajaran CGP sesuai dengan tujuan pembelajaran khusus berikut ini

Tujuan Pembelajaran Khusus :

1. CGP membuat kesimpulan (sintesis) dari keseluruhan materi yang didapat, dengan beraneka cara dan media

2. CGP dapat melakukan refleksi bersama fasilitator  untuk   mengambil   makna dari  pengalaman belajar dan mengadakan metakognisi terhadap proses pengambilan keputusan yang telah mereka lalui dan menggunakan pemahaman barunya untuk memperbaiki proses pengambilan keputusan yang dilakukannya.

PENGANTAR 

"Beban dan amanah kepemimpinan adalah mengimbangi semua prioritas yang terpenting. Tugas saya dalam pendidikan adalah melakukan yang terbaik. Apa yang diinginkan kadang-kadang belum tentu itu yang terbaik. Dan untuk membuat perubahan, apalagi perubahan transformasional, pasti ada kritik. Sebelum mengambil keputusan, tanyakan, apakah yang kita lakukan berdampak pada peningkatan pembelajaran murid ?

 (Nadiem Makarim, 2020)"

Sekolah merupakan sebuah "institusi moral" yang mengajarkan norma-norma sosial. Semua putusan yang diambil di sekolah akan merefleksikan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh sekolah tersebut, dan akan menjadi rujukan atau teladan bagi seluruh warga sekolah. Guru sebagai pendidik di era kurikulum merdeka merupakan teladan bagi murid untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Pendidik sebagai pemimpin pembelajaran harus memiliki keterampilan (skill) dalam pengambilan keputusan. Seperti yang diisyaratkan oleh Pak Menteri Nadiem bahwa pengambilan keputusan harus berdampak pada peningkatan pembelajaran murid. Janganlah menjadikan tugas guru sebagai beban karena sebagai  pemimpin pembelajaran  sudah menjadi amanah untuk memberikan yang terbaik bagi pendidikan khususnya murid dengan mendahulukan semua prioritas yang terpenting. Meskipun setiap perubahan maupun keputusan yang menurut kita baik belum tentu akan diterima dengan baik juga oleh orang lain bahkan akan menuai kritik.  Namun hal itu bukanlah sebuah alasan untuk berhenti melangkah dalam membuat perubahan ke arah yang lebih baik. Karena tanggung jawab seorang pemimpin pendidikan bukan hanya terbatas pada memenuhi harapan atau keinginan, tetapi juga pada keputusan yang mampu menghasilkan dampak positif pada proses pembelajaran dan perkembangan murid.

Berikut pernyataan yang ditulis oleh Bob Talbert : 

"Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik" 

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best)

Dengan memahami pernyataan Bob Talbert tersebut, Dimana mengajarkan keterampilan akademis adalah baik, tetapi mengajarkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang penting jauh lebih berharga dan memiliki dampak yang lebih besar dalam membentuk karakter dan sikap anak-anak. Sehingga menyadarkan Saya bahwa dalam mendidik murid bukanlah "menuntut" murid untuk menjadi seperti yang kita inginkan, melainkan bagaimana seorang guru mendidik dan mengajarkan norma atau nilai-nilai kebajikan yang akan tertanam sebagai bekal kelak di masa depan sebagai pemimpin/khalifah di muka bumi ini yang memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal yang bertanggung jawab

Di sini Saya sebagai Calon Guru Penggerak akan memaparkan hasil rangkuman dari materi modul 3.1  untuk memenuhi tugas Koneksi Antaramateri  sesuai panduan yang ada di LMS sebagai berikut :

        A.    Bagaimana filosofi Ki Hadjar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran.

Menurut Ki Hadjar Dewantara Pendidikan bertujuan untuk menuntun segala kodrat yang ada pada murid, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.


Filosofi Pratap Triloka yang dikenal sebagai semboyan  Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani yang sampaikan oleh Ki Hadjar Dewantara merupakan dasar Pendidikan di Indonesia yang menjadi pedoman bagi guru dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan ini memiliki arti bahwa "di depan memberi teladan, di tengah membangun motivasi dan di belakang memberikan dukungan" 


Seorang pemimpin, terutama dalam bidang pendidikan, harus mampu mempertimbangkan aspek-aspek holistik seperti pendekatan Ki Hajar Dewantara dan Pratap Triloka. Pengambilan keputusan yang bijaksana tidak hanya mempertimbangkan faktor-faktor praktis dan akademis tetapi juga memperhatikan pembentukan karakter, nilai-nilai moral, dan kesejahteraan siswa secara menyeluruh.


Sebagai pemimpin pembelajaran, seorang guru harus mampu menjadi teladan yang baik, menumbuhkan motivasi serta menjadi inspirasi dan memberikan dukungan dengan memfasilitasi kebutuhan muridnya, sehingga tumbuh dan berkembang sesuai kodrat alam dan zamannya. 


Segala keputusan yang diambil oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran haruslah berorientasi pada keselamatan dan kebutuhan murid yang berbeda-beda serta dapat  menumbuhkembangkan karakter murid yang sesuai Profil Pelajar Pancasila. Perilaku baik seorang guru akan diingat dan menjadi contoh dalam membentuk moral murid. Begitu pula sebaliknya. Bahkan menjadi motivasi yang akan muncul dari dalam diri murid ketika guru mampu menanamkan nilai-nilai kebajikan dalam dirinya. Apalagi ke ikhlasan seorang guru dalam melayani murid dengan penuh kasih sayang akan memberi kesempatan murid untuk tumbuh dan berkembang secara optimal dalam meraih impiannya di masa yang akan datang.


Dengan memadukan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dan konsep Pratap Triloka, seorang pemimpin dapat mengambil keputusan yang lebih holistik dan berdampak baik bagi pengembangan siswa secara menyeluruh.


BBagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan ?

Setiap manusia lahir sesuai fitrahnya masing-masing dengan nilai-nilai yang dibawa secara alamiah. Secara naluri, seiring berjalannya waktu nilai-nilai kebajikan ini akan tumbuh dan berkembang  dalam diri manusia dan membentuk perilaku  yang mewarnai kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, masyarakat dan di lingkungan kerja. 


Dalam menjalankan perannya, seorang guru yang ditiru dan digugu, harus menjalankan nilai-nilai kebajikan dalam kesehariannya. Terutama dalam pengambilan keputusan terhadap sebuah kasus/permasalahan yang terjadi di kelas dan sekolah. Keputusan yang diambil oleh seorang guru tentu akan mempertimbangkan nilai-nilai kebaikan yang ada dalam dirinya. Poin terpenting yang menjadi pedoman dalam pengambilan keputusan adalah berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab dan berpihak pada kepentingan  murid.

Pada dasarnya, nilai-nilai yang kita anut akan menjadi landasan moral dan etika dalam pengambilan keputusan. Mereka akan membentuk prinsip-prinsip yang kita pegang teguh dan memengaruhi cara kita menilai, memprioritaskan, dan bertindak dalam berbagai situasi. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan menggali nilai-nilai yang membentuk diri kita agar dapat membuat keputusan yang sesuai dengan prinsip-prinsip yang kita yakini.


CBagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil ? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut ? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sisi coaching yang telah dibahas pada sebelumnya.

Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus memiliki kemampuan sebagai Coach dimana skill ini dapat digunakan ketika menyelesaikan suatu permasalahan baik diri sendiri maupun orang lain termasuk di dalamnya guru serta murid. Sering kali ditemui guru atau murid yang bermasalah di kelas, di sinilah guru dituntut kemampuannya menjadi seorang Coach dalam sebuah kegiatan Coaching. 


Salah satu model yang dapat diterapkan dalam Coaching adalah model TIRTA dimana guru sebagai Coach membimbing dan mendorong Coahee menemukan kekuatan atau potensi yang terpendam dengan pertanyaan-pertanyaan berbobot yang menuntun Coachee menemukan solusi dari permasalahannya. Peran guru dalam pengambilan keputusan sangat mempengaruhi pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan guru sebagai Coach terhadap Coachee dalam mengambil keputusan sendiri yang dapat dipertanggungjawabkan dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan melalui kegiatan Coaching.


Dengan demikian, sesi coaching dapat menjadi sarana yang efektif untuk menggabungkan materi pengambilan keputusan ke dalam konteks penerapan praktis dalam kehidupan sehari-hari. Melalui bimbingan yang disesuaikan, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam, memperbaiki keputusan yang telah diambil, dan memperkuat keterampilan pengambilan keputusan kita untuk masa depan


D. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 

Tugas guru sebagai pendidik dan pengajar mengharuskan guru selalu dihadapkan dengan  murid dan guru lain setiap hari. Menghadapi karakter murid yang unik dan beragam, sering kali menimbulkan permasalahan yang menuntut guru memiliki tingkat kesabaran dan pengontrolan emosi yang tinggi. Hal ini mengharuskan guru memahami kondisi sosial dan emosional murid. Akan tetapi untuk dapat melakukan hal tersebut, sebelumnya seorang guru terlebih dahulu harus mengenali dan  memahami  dirinya sendiri. Guru harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosinya sendiri. Dengan manajemen  diri yang tinggi akan mempermudah dalam pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan murid berdasrkan nilai-nilai kebajikan universal. Kemampuan guru untuk merasakan dan memahami perasaan murid, serta memiliki empati terhadap mereka, akan membantu guru memahami dampak potensial dari keputusan yang akan diambilnya. Hal ini memungkinkan guru untuk lebih sensitif terhadap konsekuensi emosional dari keputusan tersebut.

Dengan demikian, kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya sangat penting dalam pengambilan keputusan, terutama dalam menghadapi dilema etika di lingkungan pendidikan. Kemampuan ini membantu guru untuk mempertimbangkan dengan bijaksana dampak sosial dan emosional dari keputusan mereka, serta untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil sesuai dengan nilai-nilai etis dan profesionalisme yang tinggi.


E. Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik ?

Pekerjaan sebagai seorang pendidik mengharuskan berada di lingkungan sekolah hampir setiap hari. Kasus yang dihadapi pun tidak hanya sekitar murid saja, tetapi kasus dengan guru, karyawan bahkan dengan kepala sekolah sebagai pimpinan. 


Ketika dihadapkan pada kasus moral atau etika, tentunya  seorang guru yang bijak tidak akan langsung membuat sebuah keputusan yang pada akhirnya merugikan dirinya, orang lain, dan sekolah. Apalagi keputusan itu berdampak negatif kepada murid.  Sebagai pemimpin pembelajaran, guru harus tetap dalam kondisi kesadaran penuh dalam menganalisa  nilai-nilai kebajikan yang saling bertentangan. Guru harus memahami dengan benar situasi yang terjadi, apakah tindakan tersebut sejalan ataukah berlawanan dengan nilai-nilai yang diyakini. Dengan begitu, guru dapat menentukan langkah selanjutnya hingga diperoleh  pengambilan keputusan yang mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab dan tetap berpihak pada kepentingan murid. Jika kasus itu merupakan bujukan moral, maka guru harus tetap berpengang teguh pada nilai-nilai kebenaran yang dianutnya.


Secara keseluruhan, pembahasan studi kasus yang berfokus pada masalah moral atau etika seringkali mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik. Nilai-nilai ini menjadi pedoman dalam membimbing pengambilan keputusan, memastikan tindakan yang diambil sesuai dengan prinsip-prinsip etis dan moral yang tinggi, serta mendukung pembentukan karakter siswa yang positif.


F. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang posistif, kondusif, aman dan nyaman.

Benar, pengambilan keputusan yang tepat memiliki dampak yang signifikan pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Di dukung oleh kemampuan guru dalam pengambilan keputusan yang tepat sangatlah penting, karena akan membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Justru sebaliknya, jika ada kesalahan dalam pengambilan keputusan, maka akan membawa dampak yang tidak diinginkan.


Dalam pengambilan keputusan, guru sebagai pemimpin pembelajaran sebaiknya menggunakan 4 paradigma, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan.  Pengambilan keputusan melalui analisa kasus yang cermat dan penerapan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dapat mengakomodir kepentingan semua pihak yang terlibat di dalamnya, sehingga tercipta lingkungan yang posistif, kondusif, aman dan nyaman.


Dengan demikian, pengambilan keputusan yang tepat berperan penting dalam membentuk lingkungan yang positif, kondusif, aman, dan nyaman. Ini menciptakan fondasi yang kuat untuk pertumbuhan dan perkembangan individu maupun organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, penting bagi pemimpin dan pengambil keputusan untuk memperhatikan proses pengambilan keputusan mereka untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan nilai-nilai positif dan memberikan dampak yang baik pada lingkungan sekitar.


G. Apakah tantangan-tantangan di lingkungan anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini ? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan anda ?

Tantangan dalam pengambilan keputusan ini terbentur pada perubahan paradigma atau budaya yang berlaku di lingkungan sekolah. Kebiasaan yang sudah membudaya,  tidaklah mudah untuk di ubah dan untuk mengubah mindset warga sekolah terhadap paradigma baru ini, tentu dibutuhkan kerjasama semua pihak yang terkait. Minimnya pengetahuan tentang 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip etika dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan menjadi kendala dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Untuk itu sosialisasi dan komunikasi sangat diperlukan dalam mengubah paradigma lama menjadi paradigma baru yang lebih memihak pada kepentingan murid. Pengambilan keputusan dengan paradigma baru ini perlu untuk terus dilakukan sehingga menjadi sebuah budaya positif disekolah. Dalam menghadapi tantangan-tantangan ini, penting untuk memiliki motivasi yang kuat untuk mengatasi dilema etika, serta berkomunikasi secara terbuka dan kolaboratif dengan rekan kerja, atasan, dan pihak terkait lainnya. Selain itu, perubahan paradigma di lingkungan kerja dapat memerlukan refleksi dan penyesuaian terhadap nilai-nilai, norma, dan prinsip yang dianut oleh sekolah.


H. Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda ?

Pengambilan keputusan yang bijaksana dalam konteks pengajaran sangat berpengaruh terhadap kemampuan memerdekakan murid-murid kita dan memastikan bahwa pembelajaran yang disampaikan sesuai dengan potensi individual mereka. Merdeka belajar merupakan pembelajaran yang berpihak pada kebutuhan belajar murid. Perubahan paradigma pendidikan yang memuliakan murid ini tentunya akan berpengaruh pada pola pengajaran guru di kelas. Pembelajaran pada paradigma lama, guru banyak "menutut" dengan mengejar ketuntasan kurikulum  semata. Di era kurikulum merdeka ini, guru "menuntun" murid dalam mengambil perannya di kelas. Pengambilan keputusan yang diambil oleh guru ini sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yaitu menuntun murid sesuai kemampuan atau kodrat alam dan zamannya. 


Untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang tentunya berbeda-beda, maka pengajaran dengan menerapkan pembelajaran berdiferensiasi sangat dianjurkan dalam upaya memberikan pembelajaran yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan murid melalui sebuah penilaian diagnostik terkait kesiapan, kebutuhan dan profil atau gaya belajar murid. Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi individual siswa dalam pengambilan keputusan terkait pembelajaran, pendidik dapat menciptakan lingkungan yang memerdekakan dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Hal ini memungkinkan setiap murid untuk mencapai potensi maksimal mereka dan menjadi pembelajar yang mandiri dan berpikiran kritis.


      I. Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya ?

Seorang pemimpin pembelajaran memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kehidupan dan masa depan murid-muridnya melalui pengambilan keputusan yang bijaksana. Pengambilan keputusan yang tepat dapat membentuk lingkungan pembelajaran yang mendukung, menginspirasi, dan memotivasi siswa untuk mencapai potensi mereka yang terbaik. Memahami peran guru  dalam pendidikan tidak hanya terbatas memberikan materi saja. Jika ini yang dilakukan, maka lambat laun peran guru akan sirna tergeser oleh teknologi dan buku-buku pelajaran yang terus berkembang. Guru berperan penting dalam menciptakan generasi yang berkualitas baik secara intelektual, spiritual maupun akhlak sehingga berhasil dan meneruskan kepemimpinan bangsa di masa depan.


Sebagai contoh, seorang pemimpin pembelajaran yang memprioritaskan inklusivitas dan keadilan dalam pengambilan keputusan akan menciptakan lingkungan di mana setiap siswa merasa dihargai dan didukung dalam perjalanan belajar mereka. Ini dapat berdampak positif pada tingkat kepercayaan diri murid, motivasi belajar, dan prestasi akademik mereka. Dengan memberikan kesempatan yang sama untuk semua murid, pemimpin pembelajaran dapat membuka pintu bagi kesuksesan bagi murid dari berbagai latar belakang dan kemampuan.


Selain itu, seorang pemimpin pembelajaran yang mempromosikan pembelajaran berbasis murid dan diferensiasi dapat memastikan bahwa setiap murid menerima pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka. Ini dapat menginspirasi murid untuk menjadi pembelajar yang aktif dan berpikir kritis, karena mereka merasa lebih terlibat dalam proses pembelajaran dan memiliki kontrol atas pengalaman mereka sendiri.


Pengambilan keputusan yang berorientasi pada pengembangan keterampilan hidup yang relevan juga dapat membantu murid dalam mempersiapkan diri untuk masa depan yang sukses. Seorang pemimpin pembelajaran yang memperhatikan pengembangan keterampilan seperti kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah dapat membantu murid untuk menjadi lebih siap menghadapi tantangan di dunia nyata dan berkontribusi secara positif dalam masyarakat.


Pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran sangatlah penting dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dalam mengubah tingkah laku muridnya menjadi lebih baik dan bisa menjadi anggota masyarakat yang lebih baik dikemudian hari. Hal ini merupakan tantangan yang berat bagi guru dalam proses mendidik. Oleh sebab itu menjadi teladan merupakan langkah nyata bagi muridnya sehingga bisa memiliki karakter sesuai norma dan nilai-nilai kebajikan yang diharapkan dalam Profil Pelajar Pancasila.

Pengambilan keputusan seorang guru menghadapi era abad 21 menjadi hal yang penting dalam melatih murid supaya memiliki kecakapan dan keterampilan hidup abad modern sekarang ini sebagai bekal mereka menghadapi tantangan yang akan dihadapi di masa depan.

 

Pengambilan keputusan seorang guru dalam membimbing dan mengarahkan muridnya berperan penting supaya mereka berada di jalur yang benar disaat proses pembelajaran. Kemampuan guru sebagai Coach dapat diterapkan dalam membimbing murid yang kesulitan belajar dengan mencari solusi yang tepat melalui kegiatan coaching. kegiatan ini dapat melatih murid sehingga mampu memecahkan masalah hidup yang dihadapinya kelak di masa depan. 


Dengan demikian, pengambilan keputusan yang tepat oleh seorang pemimpin pembelajaran tidak hanya memengaruhi pengalaman belajar murid saat ini, tetapi juga membentuk dasar untuk kehidupan dan masa depan mereka. Melalui keputusan yang bijaksana dan berorientasi pada kebutuhan murid, seorang pemimpin pembelajaran dapat menjadi agen perubahan yang kuat dalam membentuk generasi yang terdidik, terampil, dan berdaya saing di masa mendatang.


        J. Apakah kesimpulan akhir yang dapat anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaiatannya dengan modul-modul sebelumnya ?

Pengambilan keputusan merupakan kemampuan (skill) yang harus dimiliki oleh guru sebagai pemimpin pembelajaran dengan berpedoman pada filosofi Pratap Triloka Ki Hadjar Dewantara yang dikenal dengan semboyan "Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani."  Semboyan ini menunjukkan bahwa pembelajaran harus berpihak pada murid. Hal ini dapat diwujudkan  melalui merdeka belajar dengan pendekatan pembelajaran diferensiasi dalam memenuhi kebutuhan belajar murid dan pembelajaran sosial emosional untuk menumbuhkan kompetensi sosial dan emosional yang didalamnya mengandung nilai-nilai kebajikan. Disinilah Pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran sangat memegang peran penting dalam meningkatkan pembelajaran murid untuk mencapai tujuan pendidikan. 


Dalam menjalankan perannya, guru sebagai pemimpin pembelajaran sering dihadapkan pada kasus dilema etika maupun bujukan moral.  Keputusan yang diambil dalam menyelesaikan kasus-kasus itu harusnya berpijak pada nilai-nilai kebijakan universal, berpihak pada kepentingan murid dan dapat dipertanggung jawabkan  dengan menerapkan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. 


Kemampuan guru sebagai Coach bagi murid atau guru lain dalam kegiatan coaching juga mempengaruhi pengambilan keputusan seorang pemimpin pembelajaran sehingga murid maupun guru dapat mencapai visi yang menjadi tujuannya yaitu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya dengan mengeskplorasi segala kekuatan dan potensi dalam dirinya. 


Nilai-nilai (mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid) yang tertanam dalam jiwa seorang guru akan mempengaruhi pengambilan keputusan sesuai nilai-nilai kebajikan universal. 


Peran guru sebagai pemimpin pembelajaran memegang peranan penting dalam mengambil sebuah keputusan untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif, kondusif, aman dan nyaman (wellbeing) dengan kondisi kesadaran penuh (mindfullnes) sesuai visi yang berdampak pada perkembangan murid.


Dengan demikian, pengambilan keputusan yang tepat oleh seorang pemimpin pembelajaran tidak hanya memengaruhi pengalaman belajar murid saat ini, tetapi juga membentuk dasar untuk kehidupan dan masa depan mereka. Melalui keputusan yang bijaksana dan berorientasi pada kebutuhan murid, seorang pemimpin pembelajaran dapat menjadi agen perubahan yang kuat dalam membentuk generasi yang terdidik, terampil, dan berdaya saing di masa mendatang.


K. Sejauh mana pemahaman anda tentang  konsep-konsep yang telah anda pelajari di modul ini, yaitu dilema etika dan bujukan moral di paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut anda di luar dugaan ? 

Penting bagi seorang pemimpin pembelajaran memahami kasus-kasus yang terjadi di kelas maupun di sekolah, apakah kasus itu termasuk dilema etika ataukah bujukan moral. dalam pengambilan keputusan suatu kasus moral, dapat menggunakan 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan seperti berikut ini:


                4 Paradigma Pengambilan Keputusan meliputi :


                a. Individu lawan kelompok (Individual VS Community)

                b. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (Justice VS Mercy)

                c. Kebenaran lawan kesetiaan (Truth VS Loyalty)

                d. Jangka pendek lawan jangka panjang (Short Term VS Long Term)

                

                3 Prinsip Pemngambilan Keputusan meliputi:

    •    Berfikir Berbasis Hasil akhir (End Based Thingking)
    •    Berpikir Berbasis Peraturan (Rule Based Thingking)
    •    Berpikir Berbasis Peduli (Care Based Thingking) 

        9 Langkah Pengambilan dan pengujian Keputusan meliputi:

                

                -  Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

                -  Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi yang terjadi

                -  Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi yang terjadi

                -  Menguji benar atau salah melalui Uji Legal, Uji Regulasi/Standar Profesional, Uji Intuisi, Uji Publikasi

                -  Pengujian paradigma benar lawan benar melalui 4 paradigma dilema etika

                -  Melakukan prinsip resolusi melalui 3 prinsip penyelesaian dilema etika

                -  Investigasi Opsi Trilema

                -  Buat Keputusan

                -  Lihat lagi keputusan dan refleksikan


L. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkan Anda menerapkan pengambilan keputusan menerapkan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema ? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini ?

Sebagai guru yang mendapat tambahan tugas sebagai asisten wakasek kurikulum dan bendahara sekolah, tentunya pernah menghadapi kasus-kasus dilema etika baik kasus guru maupun murid.

Sebelum mendapatkan pembelajaran modul ini, Saya menerapkan pengambilan keputusan yang sesuai dengan nilai-bilai kebajikan dan berpihak pada kepentingnan murid. Namun ada perbedaan terutama dalam penerapan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan yang Saya lakukan secara acak, tapi secara garis besar sudah menerapkan paradigma dan prinsip pengambilan keputusan dilema etika.


M. Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini ?

Saya sangat bersyukur dengan adanya pembelajaran tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan ini karena sudah membawa dapak positif dalam diri Saya. Banyak ilmu yang Saya dapatkan dari modul ini yang sangat bermanfaat untuk masa yang akan datang sebagai pemimpin pembelajaran. Dampak yang dirasakan adalah perubahan pada pola pikir Saya dalam menangani kasus yang terjadi di kelas atau di sekolah.  


Perubahan yang terjadi yaitu: Jika sebelum mempelajari materi ini, Saya masih sering bingung dalam menentukan sebuah kasus, apakah termasuk dilema etika ataukah bujukan moral, maka setelah  mendapatkan dan memahami tentang materi dalam modul ini, Saya menjadi lebih mudah dalam membedakan kasus-kasus yang termasuk dilema etika dan bujukan moral.


Perubahan juga terjadi pada cara pengambilan  keputusan yang sebelumnya berjalan secara mengalir tanpa ada dasar tertentu, sekarang dengan mengenal 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan menjadi lebih mudah dan efisien serta berpihak pada kepentingan murid dengan berdasarkan nilai-nilai kebajikan.


N. Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?

Materi dalam modul ini tentunya sangatlah penting bagi Saya baik sebagai individu maupun sebagai seorang pemimpin. Sebagai seorang individu, kemampuan pengambilan keputusan ini sangat penting bagi profesionalitas Saya sebagai seorang guru sekaligus sebagai warga sekolah yang digugu dan ditiru oleh warga sekolah lainnya maupun masyarakat. Kemampuan pengambilan  keputusan ini sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan untuk diri sendiri terutama dalam peningkatan   performan atau kinerja sebagai guru di sekolah maupun dalam penyelesaian kasus dilema etika atau bujukan moral yang ditemui  sebagai anggota  masyarakat. 

Sebagai pemimpin pembelajaran, kemampuan pengambilan  keputusan sangat dibutuhkan ketika dihadapkan pada kasus-kasus berupa dilema etika maupun bujukan moral yang akan sering ditemui selama menjadi seorang guru baik di kelas maupun di sekolah, agar setiap keputusan yang diambil selalu berpihak pada kepentingan murid dengan berlandaskan nilai-nilai kebijakan universal yang dapat dipertanggung jawabkan. 

Demikianlah rangkuman terkait koneksi antar materi modul 3.1 tentang pengambilan keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai pemimpin. Semoga  ilmu ini bisa  bermanfaat dan membawa perubahan ke arah yang lebih baik ....

SALAM PERGERAKAN....

Dokumentasi Dalam Pengambilan keputusan Di Sekolah

Pengambilan Keputusan Dalam Pemilihan dan Penggunaan Strategi Pembelajaran Bersama Rekan Sejawat


Pengambilan Keputusan tentang program sekolah yang mau dilaksanakan


Pengambilan Keputusan Tentang Topik P5  Untuk Kelas X dan XI bersama Fasilitator






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

3.1.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN Diterbitkan : 09 Pebruari 2024 Sumber                : Modul 3.1 Pen...